Sabtu,
6 april 2008 @ 18:45 WIB , Di pinggiran jalan ciputat raya . . . .
Pagi
itu mentari bersinar menyinari persada bumi memberikan terang dan membuka tabir.
kegelapan.
Kutatap
langit biru bagai sebuah hamparan kain sutera yang diselimuti awan tipis yang
bergerak tertiup angina
Bunga
bunga bermekaran, burung burung
berkicauan riang menyambut pagi yang baru bangun dari peraduan. Suara gaduh
mesin-mesin pembantu manusiapun mulai berteriak.
angin nya
sejuk mengusap tubuhku yang kuyu membangkitkan semangatku untuk tegak berdiri
dan melangkah kakiku menapaki jalan kehidupan yang penuh kerikil dan duri tajam.
Dalam
hatiku inilah hidup, hidup yang penuh warna warni, hidup yang penuh dengan skenario
bak cerita para pujangga.
Kulihat
air menggenang dalam sebuah parit dan kulihat bayangan wajahku jatuh dalam
genangan air yang sedikit bergelombang seperti rasa hatiku saat ini yang
dihujani dengan keresahan dan kegelisahan.
Kupandang
dan kupandang air itu dalam dalam dan seakan air itu berbisik kepadaku : “kamu
semakin tua, waktumu semakin sempit, skenario kehidupanmu semakin menuju ke penghujungnya.
Sedangkan kereta yang akan membawamu kesebuah tujuan yang abadi telah dekat
menanti, tapi… apakah kamu sudah mempersiapkan segala perbekalan….? Apakah kamu
telah mempersiapkan tiket untuk memasuki sebuah singgasana keAbadian”.
Sejenak
kuterdiam dan anganku meraba raba sebuah buku kehidupan, kubuka kembali dan kubaca
lembaran yang telah tertulis, kurenungkan….kenapa….? kenapa….? Kenapa aku harus
mengotori lembaran-lembran itu. Aku menyesal kenapa itu harus terjadi. Seandainya
jarum jam bisa di putar kembali aku akan putar jarum jam itu pada awal aku menulis
lembaran-lembaran putih itu dan akan kutulis sebuah puisi kehidupan dengan
tinta emas.
Tapi
nasi sudah jadi bubur tak mungkin menjadi nasi lagi.
Kini
aku hanya bisa menulis sisa-sisa dari lembaran yang telah ternoda oleh najis
dunia, tapi apakah aku bisa merangkai sebuah puisi hidup dengan tinta emas pada
sisa lembaran itu….
Semangatku
bak bagai air lautan yang terbendung oleh daratan… segala goda pun selalu ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar