Jumat, 06 April 2012

penyesalan


Sabtu, 6 april 2008 @ 18:45 WIB , Di pinggiran jalan ciputat raya . . . .


Pagi itu mentari bersinar menyinari persada bumi memberikan terang dan membuka tabir. kegelapan.

Kutatap langit biru bagai sebuah hamparan kain sutera yang diselimuti awan tipis yang bergerak tertiup angina

Bunga bunga  bermekaran, burung burung berkicauan riang menyambut pagi yang baru bangun dari peraduan. Suara gaduh mesin-mesin pembantu manusiapun mulai berteriak.

angin nya sejuk mengusap tubuhku yang kuyu membangkitkan semangatku untuk tegak berdiri dan melangkah kakiku menapaki jalan kehidupan yang penuh kerikil  dan duri tajam.

Dalam hatiku inilah hidup, hidup yang penuh warna warni, hidup yang penuh dengan skenario bak cerita para pujangga.

Kulihat air menggenang dalam sebuah parit dan kulihat bayangan wajahku jatuh dalam genangan air yang sedikit bergelombang seperti rasa hatiku saat ini yang dihujani dengan keresahan dan kegelisahan.

Kupandang dan kupandang air itu dalam dalam dan seakan air itu berbisik kepadaku : “kamu semakin tua, waktumu semakin sempit, skenario kehidupanmu semakin menuju ke penghujungnya. Sedangkan kereta yang akan membawamu kesebuah tujuan yang abadi telah dekat menanti, tapi… apakah kamu sudah mempersiapkan segala perbekalan….? Apakah kamu telah mempersiapkan tiket untuk memasuki sebuah singgasana keAbadian”.

Sejenak kuterdiam dan anganku meraba raba sebuah buku kehidupan, kubuka kembali dan kubaca lembaran yang telah tertulis, kurenungkan….kenapa….? kenapa….? Kenapa aku harus mengotori lembaran-lembran itu. Aku menyesal kenapa itu harus terjadi. Seandainya jarum jam bisa di putar kembali aku akan putar jarum jam itu pada awal aku menulis lembaran-lembaran putih itu dan akan kutulis sebuah puisi kehidupan dengan tinta emas.

Tapi nasi sudah jadi bubur tak mungkin menjadi nasi lagi.

Kini aku hanya bisa menulis sisa-sisa dari lembaran yang telah ternoda oleh najis dunia, tapi apakah aku bisa merangkai sebuah puisi hidup dengan tinta emas pada sisa lembaran itu….

Semangatku bak bagai air lautan yang terbendung oleh daratan… segala goda pun selalu ada.

Tidak ada komentar:

Laman

Profil saya

Foto saya
jakarta, jakarta, Indonesia
Seorang pemuda yang gelisah, Hidup di pinggiran Jakarta,Banyak hal yang dijalani untuk merubah nasib dan kehidupan lebih baik,Namun nasib dan keberuntungan tak kunjung berpihak,Kita punya cita-cita dan angan - angan yang mulia tapi tuhan punya kehendak lain.Langkah - langkah pilihanku kandas ditiup waktu,Tempat pelabuhanku terakhir menjadi seorang Penulis Puisi di Rumah yang berada di pinggiran Jakarta yang jauh dari hiruk pikuknya gemerlap ibu kota..

Entri Populer